Info Pasar

Telur Memburuk, Broiler Sedikit Membaik (11/1/2011)

SELAMAT datang tahun 2011. Selamat datang di masa dan suasana baru. Suasana yang dipenuhi kenaikan harga-harga. Harga cabe yang jauh melampaui harga daging yakni Rp 110 ribu per kg, harga beras, minyak goreng yang terus merangkak naik. Peternakpun merasakan suasana baru yakni kenaikan harga pakan dan DOC. Harga pakan broiler misalnya naik sekitar Rp 200/kg menjadi Rp 5200/kg, sedangkan untuk bibit broiler kini seharga Rp 4000-5500/ekor. Ironisnya harga komoditas produksinya malah melorot di bawah harga HPP. Harga broiler di suatu tempat dilaporkan hanya Rp 10000/kg, telur turun di angka Rp 12500/kg, bahkan di sentra produksi Jatim anjlok pada harga Rp 10800/kg.
Hasil pemantauan PINSAR pada Jumat (7/1) mencatat pada angka dan kondisi yang beragam di berbagai kota. Harga broiler ex-farm di Jabodetabek tercatat menguat dari awal bulan ini yang berkisar di angka Rp 12200/kg naik menjadi Rp 13400/kg (8/1). Kenaikan ini diduga merupakan respon atas kenaikan harga pakan dan bibit yang terjadi sebelumnya. Pasalnya dari sisi permintaan tidak ada indikasi yang mengarah pada penguatan. Sebaliknya permintaan broiler dilaporkan banyak narasumber dalam kondisi sepi. Naiknya kebutuhan berbagai macam kebutuhan pokok dan cuaca yang masih dipenuhi guyuran hujan menjadi faktor yang kuat mempengaruhinya. Hasil pemantauan di Jatim tercatat broiler diperdagangkan pada harga Rp 10000-10500/kg, sedangkan di Jateng dalam kisaran Rp 10500-11500/kg, atau cenderung stagnan dibanding awal pekan ini.. Jika menilik pada kenaikan harga pakan dan bibit, HPP broiler di Jabodetabek tidak kurang dari Rp 13500/kg, maka dapat disimpulkan secara sederhana situasi saat ini amat berat bagi peternak broiler. Meskipun dari sisi produksi, performa produksi sangat baik.


Broiler Naik, Telur Stabil (6/12/2010)

KINI apa yang dinanti peternak broiler akhirnya nyata terjadi. Permintaan broiler di pekan ini melonjak tajam, tepatnya saat masuk bulan Desember. Serta merta harga broiler nasional juga turut terdongkrak. Sebaliknya, harga telur mengikuti tren menurun. Meski tanggal muda telah tiba, permintaan relatif biasa saja, dan hargapun cenderung tertekan. Namun begitu, di akhir pekan ini, dimungkinkan keadaan bisa berbalik, sehingga harga telur mampu mencatat kenaikan.
Tekanan harga broiler yang terjadi selama pekan lalu kini mulai mereda, seiring masuknya bulan baru. Hal ini terlihat dari hasil pantauan PINSAR yang mencatat harga broiler di Jakarta dan sekitarnya naik menjadi Rp 13300-13500/kg (3/12) dari sebelumnya Rp 12500/kg (27/11), di Jateng dari Rp 12300/kg menjadi Rp 12500/kg serta Jatim dari Rp 12500/kg menjadi Rp 13000/kg. Kenaikan ini dilaporkan berbagai pihak karena tingginya permintaan broiler sejak 1 Desember lalu. Sesungguhnya harga broiler di Jatim dan Jateng yang terpantau pada saat ini Jumat (3/12), sudah sedikit mengalami koreksi dibanding dua hari sebelumnya. Pasal ceritanya, isu sudah dekatnya bulan Suro pada Selasa pekan depan cukup efektif digunakan pedagang untuk menekan harga.


Telur Menguat, Broiler Kosolidatif. (24/11/2009)

Sengketa antar lembaga penegak hukum, belum juga mereda hingga kini. Meski Tim 8 bentukan Presiden telah usai melaksanakan tugas, sengketa ini masih saja menyita perhatian besar publik, bahkan kian berlarut dan sulit ditebak arah penyelesaiannya. Beberapa pihak mulai mengkhawatirkan pengaruhnya pada target pertumbuhan perekonomian Nasional. Tentu pada tahap lanjutnya, sedikit-banyak, pasti berimbas pada pasar unggas Nasional.


Broiler Turun, Telur Positif (13/12/2010)

TAHUN Baru 1432 Hijriyah ( 1 Suro / 1 Muharam) tiba pada tanggal 7 Desember lalu. Bagi pelaku pasar komoditas unggas, inilah masa sepi permintaan dan koreksi harga bagi broiler dan telur. Pasalnya sebagian dari mereka menduga pasar broiler dan telur akan dominan diwarnai sepi permintaan. Broiler di pekan ini menunjukkan hal itu, tetapi tidak untuk telur. Pasar broiler pada pekan ini diliputi sepi permintaan sehingga harganya turun. Namun untuk telur, permintaan justru dilaporkan menguat, dan harganya di sebagian sentra produksi, nyata mengalami kenaikkan.
Dari Blitar – Jatim dikabarkan untuk saat ini stok telur di Jatim tidak mencukupi permintaan untuk memenuhi kebutuhan telur di Jabar dan Jakarta. Sebagian agen telur di ibukota bahkan tidak mendapat bagian. ”Jakarta banyak minta, tapi stok tidak cukup,” ungkap narasumber di Malang. Ada beberapa hal yang diduga menyebabkan tingginya permintaan telur yakni untuk wilayah Jabar, Banten dan sebagian Jakarta, bulan Suro terkait dengan tradisi masyarakat, relatif tidak berdampak pada penurunan permintaan. Faktanya hingga kini kegiatan hajatan keluarga masih marak dilakukan masyarakat di wilayah ini. Kedua ada indikasi terjadi serangan penyakit yang serius di farm-farm petelur, sehingga produksi dan suplai telur turun. Beberapa narasumber PINSAR di Jabar dan Jatim menginformasikan hal yang sama. Turunnya harga afkir layer dari Rp 14000/kg menjadi Rp 12500/kg di Jatim bisa menjadi indikator bahwa kini banyak farm melakukan pengafkiran ayam dalam jumlah besar. Jika hal ini yang terjadi, maka sesungguhnya bukan tingginya permintaan, tetapi ada ketidakseimbangan produksi dan distribusi daripada sebelumnya.


Broiler dan Telur Dalam Stagnasi (30/11/2010)

LEBARAN Haji telah lewat, hingga di penghabisan Bulan Dulhijah nanti, ini menjadi momen yang dinanti sebagian peternak kita sebagai hari baik tingginya permintaan komoditas unggas dan naiknya harga broiler dan telur. Namun demikian dalam sepekan ini, tampaknya harapan peternak itu belum terpenuhi.. Malah catatan pinsar menunjukkan harga komoditas broiler dalam tekanan. Masa tanggal tua, diduga kuat menjadi bagian yang menyebabkannya.
Hingga kini dan beberapa waktu ke depan produksi bibit broiler diperkirakan akan tetap terbatas. Inipun nampak dari harganya yang masih di kisaran Rp 4800/ekor. Hal yang selama ini menjadi alasan rasa optimisme peternak dalam menyambut pasar broiler hidup (live bird). Namun faktanya di tengah momen bulan baik ini, harga broiler tetap dalam tekanan yang cukup berat. Hasil pemantauan PINSAR mencatat di pasar kota-kota P. Sumatera, Jabodetabek hingga Jawa Tengah harga broiler turun dibanding dengan pekan lalu. Di Medan tercatat broiler diperdagangkan pada harga Rp 12000/kg, di Jabotabek Rp 12000-12500/kg dan di Semarang Rp 12000-12300/kg, bahkan pada kota-kota tertentu harga di kisaran Rp 11500/kg. Berbagai informasi yang dihimpnn menunjukkan pelemahan disebabkan oleh sepi permintaan karena masa tanggal tua. Dampak bencana letusan Gunung Merapi dan Bromo terhadap sektor pariwisata diduga juga menyebabkan lemahnya permintaan komoditas ini.


Broiler Turun Tajam dan Telur Moderat (20/3/2010)

Musim panen telah tiba, daya beli masyarakat –utamanya di pedesaan– dipastikan menanjak. Tentu hal ini berdampak pada menaiknya daya serap pasar terhadap broiler maupun telur. Kabar baik ini masih berseiring dengan bergairahnya tanda-tanda pemulihan perekonomian Nasional. Indeks komposit BEI yang mulai mendekati titik puncak sebelum krisis finansial 2008, kian menguatnya nilai tukar Rupiah, serta laporan derasnya arus masuk modal asing di Indonesia.


Harga Broiler Variatif, Telur Mulai Bergerak Naik (1/3/2010)

Koalisi politik terancam retak. Masih terkait bail out century, beragam kepentingan partai politik koalisi, mengancam stabilitas pemerintahan. Isu reshuffle, restrukturisasi koalisi, serta proses hukum atas pelanggaran pada bail out century, menjadi kian memanas. Stabilitas politik dan pemerintahan, berada dalam ancaman. Proses politik yang berbelit, rumit, serta berlarut-larut dikhawatirkan mengancam prospek perekonomian Nasional. Sekalipun hal ini ditentang oleh pejabat pemerintah dengan berbagai data yang ada, tetap saja kekhawatiran pada prospek perekonomian tak terelakkan. Lebih jauh, perekonomian Nasional yang terancam, akan berimbas pada pertumbuhan daya serap pasar Nasional terhadap produk unggas. Daya serap pasar Nasional yang dalam satu dasa warsa terakhir tak tumbuh signifikan, dikhawatirkan kembali tertekan oleh situasi politik yang kurang kondusif.


Broiler Kembali Limbung, Telur Masih Merana (15/2/2010)

AC-FTA, mulai berimbas. Perekonomian Nasional dalam tantangan yang tak ringan. Banyak pihak meyakini, akan terjadi banyak gelombang PHK. Konsekuensinya, daya beli akan kembali tertekan serta angka pengangguran dan kemiskinan menanjak. Ditengah mandeknya daya saing industri Nasional, AC-FTA nampaknya akan lebih memberikan dampak buruk ketimbang sebaliknya. Sekalipun Bangsa ini dikaruniai kekayaan alam berlimpah, sepertinya belum tercermin pada tingkat daya saing di kancah perekonomian global. Akhirnya, prospek pertumbuhan perekonomian Nasional yang diperkirakan melejit pada tahun ini, sangat mungkin akan terganggu secara signifikan.


Broiler Pulih, Telur Masih Tertekan (11/2/2010)

Tahun baru Imlek, sebentar lagi tiba. Sentimen positif diharapkan muncul untuk mendongkrak tingkat permintaan unggas. Di tengah kabar mencemaskan berlakunya ASEAN-China FTA serta daya saing Nasional yang stagnan, sentimen positif dari perayaan Imlek patutlah diharapkan. Menutup catatan tragis performa harga jual broiler minggu lalu, pelaku bisnis broiler pada akhir minggu ini bisa sedikit bernafas lega. Kenaikan harga jual memang masih belum memuaskan, tetapi setidaknya telah beranjak di kisaran harga jual keekonomian. Dari beberapa laporan menyebutkan, menguatnya tingkat permintaan yang dirangsang oleh penurunan secara signifikan sisi pasok. Pekan depan, hampir dapat dipastikan performa harga jual broiler akan kembali melanjutkan pergerakan positif. Hal ini sekaligus mengakhiri trend negatif yang telah berlangsung selama lima minggu sebelumnya. Praktis, satu minggu terakhir adalah titik nadir yang mencemaskan dari pergerakan harga jual negatif periode lima pekan-an.


Kinerja Harga Yang Kontras Dengan Kinerja Ekonomi (18/01/2010)

Pekan ketiga tahun 2010 telah tiba. Pergerakan pasar unggas Nasional terpantau stagnan. Setidaknya hal ini terindikasi dari pergerakan harga jual. Satu kabar kurang sedap datang dari kajian yang dirilis ekonom INDEF beberapa waktu lalu. Hasil kajian menyebutkan: kenaikan tingkat konsumsi yang terjadi pada periode sepanjang 2009 lalu, di tengah kepungan krisis finansial global, bukanlah indikator dari peningkatan daya beli masyarakat konsumen. Hal ini ditunjang petunjuk lainnya, serapan kartu kredit yang meningkat signifikan dan teriring kenaikan suku bunga kartu kredit di tengah arus penurunan suku bunga SBI. Akhirnya disimpulkan, peningkatan konsumsi yang terjadi sepanjang tahun 2009 lalu, memiliki dasar yang rapuh alias rentan dan tidak lestari.


Syndicate content

User login

9 + 10 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Syndicate

Syndicate content